Sad | Man Version

image

Cho Kyuhyun

Sebelum kehadirannya, aku hanyalah seorang pria yang tidak perna  sekalipun memandang masa depan dengan cara yang benar.

Yang kulakukan hanyalah bersenang-senang menghabiskan belasan juta won setiap harinya. Aku juga tidak perna tertarik untuk menjalin hubungan asmara dengan wanita manapun dan jika kebutuhan kelelaki-lakianku mendesak, yang kulakukan adalah menyambangi club-club malam kelas atas dan meniduri wanita-wanita panggilan yang ada disana.

Sebelum kehadirannya juga, aku tidak perna percaya akan apa yang dinamakan cinta. Cinta itu bullshit, omong kosong. Kegagalan hubungan kedua orang tuaku-lah yang membuatku tidak mempercayai cinta dan selalu memandang cinta dari sudut yang negatif. Jika mereka saling mencintai, mereka tidak mungkin bercerai disaat usiaku yang baru saja beranjak 9 tahun. Aku hancur diusiaku yang masih begitu muda. Bagaimana mungkin mereka memilih untuk berpisah disaat diriku masih membutuhkan kasih sayang dan cinta dari keduanya.

“Hai.”

Kalian dengar bukan? Itu dia suara wanita kecintaanku. Wanita yang membuatku memandang masa depan dengan cara yang benar, wanita yang membuatku mau tidak mau harus merubah sudut pandangku tentang cinta, dan sekali lagi wanita yang memperkenalkan padaku makna cinta yang sebenarnya. Mendengar suaranya membuatku rileks.  Aku seakan terbebas dari himpitan rasa rindu yang begitu menyesakan. Dia -wanita kecintaanku- berdiri di bibir pintu mengenakan gaun  torquise musim panas. Rambut panjang coklatnya dijalin longgar. Ia membuat pilihan yang bagus dengan memilih untuk menatanya disatu sisi saja. 

Wanitaku, Han Saejin.

Saaejin adalah segalanya yang aku inginkan. Ia memberikan padaku apa yang diinginkan setiap pria dimuka bumi ini. Ia memberiku cinta, kasih sayang, perhatian, sex yang hebat diranjang dan diatas semua itu, ia menyerahkan dirinya seutuhnya hanya untuku. Aku begitu beruntung dicintai oleh wanita sepertinya dan aku begitu mensyukuri hal itu  hingga detik ini.

Memberikan senyum terindahnya yang selalu menjadi favoritku, perlahan tapi pasti Saejn berjalan mendekat. Tidak memilih membalas sapaannya, aku malah menatapnya dengan tatapan yang kuyakini begitu intens,  memastikan  setapak  demi setapak langkah kakinya adalah langkah yang ia ambil dengan benar dan hatiku menjeritkan teriakan  kebahagiaan  saat kudapati ia memerah dibawah tatapan intensku.

Mengitari meja kerjaku yang terbuat dari kayu mahoni, kini ia berdiri tepat  disisku dan tanpa peringatan terlebih dahulu, aku menarik tangannya hingga ia jatuh terduduk tepat diatas pangkuanku.

“Akhirnya.” Aku medesah lega saat berhasil membungkus lenganku disekitar tubuh mungilnya. Hal selanjutnya yang kulakukan membenamkan wajahku tepat dilekukan lehernya dan menanamkan sebuah kecupan lembut nan mesra disana -tempat favoritku-.

“Cho, hentikan! Ini sangat tidak sopan. Bagaimana jika karyawanmu melihat kita dan mempergunjingkan apa yang kau lakukan padaku saat ini.” Saejin menggeliat dalam pelukanku dan aku cukup tahu bahwa ia memerotes aksiku. Jika ia berharap aku akan menghentikan aksiku, maka ia salah besar. Peduli setan dengan karyawanku! Mereka tidak akan mungkin berani mempergunjingkan namaku karena jika mereka berani melakukannya, maka aku akan dengan senang hati menendang bokong sialan mereka keluar dari perusahaanku! Jika kalian berpikir aku sedang tidak serius, maka segera singkirkan pikiran sialan itu dari otak kalian. Aku serius, aku akan menendang bokong sialan siapa pun yang berani mempergunjingkan apa yang aku dan Saejin lakukan.

“Berhenti menggeliat diatas pangkuanku Han. Kau tentu teramat sangat tahu apa efek dari perbuatanmu itu. Aku bisa saja meniduri diatas meja kerjaku saat ini juga! Jadi sekarang diamlah!” Pada akhirnya Saejin memilih untuk diam. Ia menghembuskan nafasnya dengan malas dan kutahu ia jengah akan aksiku. Aku tidak bohong saat mengatakan bahwa aku merindukannya, karena memang seperti itulah adanya. Mungkin ini kedengaran sedikit tidak masuk akal. Tapi demi Tuhan, aku tidak bisa jika tidak melihatnya. Itu akan membunuhku secara perlahan.

“Bagaimana mungkin kau sudah merindukanku. Jika aku tidak salah ingat, kita baru berpisah kurang dari tiga jam.”

“Itu karena sosokmu yang sangat mudah untuk dirindukan, Han.” Aku tahu ini sedikit berlebihan atau mungkin tolol karena kami bahkan baru bertemu beberapa jam yang lalu.

“Benarkah?”

“Tentu saja,” tukasku.

“Jadi sekarang, katakan yang sebenarnya, ada gerangan apa kau meminta, tidak  maksudku, memaksaku lebih tepatnya  untuk datang menemuimu.” Saejin yang entah sejak kapan telah berpindah posisi menjadi berdiri tepat dihadapanku, memiringkan kepalanya kesatu sisi kemudian menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya dari balik bulu mata lentiknya.

Mengabaikan tatapannya aku kemudian berucap. “Kemarilah, Han.” Aku perlu membawanya kembali ke pangkuanku dan hal selanjutnya yang kulakukan adalah mengulurkan tanganku berharap  Saejin menyambutnya.

“Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku, Cho!” Kekehnya. Dasar wanita keras kepala.

“Aku sudah menjawabnya diawal. Aku merindukanmu, sesederhana itu. Apa itu belum cukup? Jadi hentikan segala omong kosong yang keluar dari mulut pintarmu dan kemarilah.”Pada akhirnya Saejin menerima uluran tanganku. Ia merangkak naik keatas pangkuanku. Sedetik setelahnya, untuk kesekian kalinya aku kembali membungkus lenganku dengan erat disekelilling tubuhnya dan mengecup  sayang  puncak kepalanya

“Aku juga merindukanmu, Cho.” Aku tersenyum  menanggapi perkataannya. Yah aku tahu.  Aku tahu dengan sangat baik bahwa Saejin merindukanku.

“Oh sialan, man. Cari kamar sana!”

Tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa pemilik suara yang dengan kurang ajarnya menginterupsi quality time-ku bersama Saejin. Well, si pemilik suara atau yang lebih pantas disebut sebagai si pengganggu  itu adalah Kim Woobin. Sahabat sekaligus saudara tiriku. Woobin berdiri menyender dengan angkuhnya pada kusen pintu masuk ruang kerjaku. Jika aku tidak salah lihat, ia memutar mata malas serta menghadiaku tatapan menjijikan. Khas seorang Kim Won sekali.

“Terima kasih untuk ide cemerlangmu. Aku akan mempertimbangkan untuk mencari kamar sesegera mungkin.”   Kurasakan kedua lengan mungil Saejin semakin erat merengkuh leherku. Biar kutebak. Wajah cantiknya pasti memerah sekarang. Mungkin semerah tomat. Saejin sedikit beruntung karena posisi duduknya yang membelakangi Woobin. Aku berani jamin setelah ini Saejin pasti tak ingin bertemu dengan Woobin lagi. Bahkan ia  mungkin  akan melakukan segala cara untuk menghindari Woobin di waktu yang akan datang.  Dipergoki sedang bermersaan adalah hal yang paling dihindari Saejin.
***

“Bagaimana harimu?” Inilah salah satu hal yang kusukai dari wanitaku. Ia begitu perhatian, selalu menanyakan hal-hal kecil yang pada kenyataannya jarang dilakukan oleh kebanyakan pasangan kekasih diluar sana.

“Hariku,”aku memberi jeda pada ucapanku. Memusatkan perhatianku hanya padanya, aku menatap Saejin tepat dimanik matanya. Tidak sampai disitu saja, aku membawa kedua tangannya ke mulutku kemudian memberikan kecupan mesra tepat diatas buku-buku jarinya. Aku tidak dapat menahan senyuman konyol  yang terkembang diwajahku saat kudapati   lagi-lagi ia memerah karena perlakuanku. Holly Shit!! Dia manis sekali.

“Kau menginginkan jawaban yang seperti apa? Jawaban yang jujur atau sebaliknya.”

“Kau amat sangat tahu aku menginginkan jawaban yang seperti apa, Cho.”

“Baiklah! Hariku tidaklah menyenangkan sebelum kehadiranmu. Kau tahu, amat sangat membosankan. Tapi rasa bosan itu menguar entah kemana saat aku mendapati dirimu berdiri tepat didepan pintu ruanganku dalam balutan gaun torquise musim panas.”

“Berhenti menggombaliku, Cho Kyuhyun.” Aku terkekeh. Saejin jelas-jelas malu sekarang dan hal selanjutnya yang kulakukan adalah mengurungnya dalam dekapanku.

“Aku tidak suka kau melihat wajahku sekarang. Sangat memalukan, kau tahu,” gerutu Saejin.

“Han, tidak ada yang memalukan tentangmu.”

“Kalau begitu mulai sekarang berhenti menggombaliku, Cho.”

“Baiklah, baiklah. Tapi aku tidak berjanji.” Saejin melepaskan diri dari dekapanku dan menatap tajam kearahku. Jika ia berpikir ia berhasil mengintimidasiku dengan tatapannya maka ia salah besar. Tatapan tajamnya tidak berefek apa-apa bagiku. Tak tahukah ia bahwa tatapannya itu persis seperti tatapan seekor anak kucing kecil. Aku tidak akan perna bosan untuk mengatakan ini, ia benar-benar manis sekali.
***

Saejin telah kembali ke aparteman sejak  tiga jam yang lalu, meninggalkanku seorang diri disini. Seperti biasa malam ini aku lembur lagi.  Sialan! Aku akan mengatakan satu hal. Aku benci lembur.  Aku benci saat  harus mendekam diruangan kerjaku hingga larut malam dan diatas semua itu, aku benci akan fakta bahwa Saejin tidak benar-benar berada disampingku. Berkas-berkas yang sialan penting mengenai akuisisi dan marger dengan salah satu perusahaaan asinglah yang menahanku disini. Aku harus membaca secara keseluruhan berkas-berkas itu kemudian menandatanganinya. Rutinitas yang jelas-jelas amat sangat membosankan.

Tiba-tiba sebuah pemikiran mengenai membawa setumpuk pekerjaan ke apartemen menyelinap kedalam otakku. Ok, aku bisa menyelesaikan semua tetek bengek mengenai akuisisi dan marger disana. Tapi sebelum pemikiran itu berkembang lebih jauh dan terealisasi, secepat kilat aku menepisnya. Bukan tanpa alasan aku memilih menepis pemikiran yang jelas-jelas sangat menggiurkan ini.

Aku perna beberapa kali mencoba membawa pekerjaanku ke apartemen. Dan bisa ditebak pekerjaanku itu tidak perna selesai. Alhasil keesokan harinya aku harus kembali melanjutkan  semua pekerjaanku di kantor. Jika kalian bertanya mengapa? Maka jawabannya adalah karena Han Saejin. Saat  berada didekatnya, aku akan mengabaikan semua yang ada disekelilingku. Pusatku hanya tertuju padanya. Aku lebih memilih untuk bercinta dengannya dibandingkan mengerjakan semua pekerjaanku. Dia sudah seperti candu bagiku dan  aku tidak berani  memprediksikan apa yang akan terjadi padaku jika  sampai Saejin meninggalkanku.
***

Aku telah tiba di basement parkir apartemenku tepat pukul 01:00 KST. Kurasa aku tidak perlu menjelaskan alasan keterlambatanku, kalian kalian tentu sudah tahu, bukan?!

Setelah memarikir Audi A7  miliku di tempat parkir yang memang khusus disediakan untuku, secepat kilat aku melompat turun dan berjalan memasuki lift yang akan membawaku ke lantai 30 Gwangju Apartemen.

Satu-satunya hal memenuhi kepalaku saat ini adalah Han Saejin. Aku tidak sabar untuk segera bertemu dengannya kembali. Seulas senyum tersungging diwajahku tak kala saraf-saraf dalam otakku berkordinasi memutar ulang kilasan kejadian setengah jam yang lalu -saat Saejin mengirimi email yang isinya sedikit banyak menarik perhatianku-.

Han Saejin, menyiapkan sebuah kejutan istimewah. Kira-kira begitulah isi emailnya.

Sepanjang perjalan pulang tadi aku terus menebak-nebak kira-kira jenis kejutan seperti apa yang ia –Han Saejin- siapkan untuku. Aku membayangkan Saejin mengenahkanan lingerie seksi keluaran rumah mode Victoria secret kemudian bergaya ala Behati Prinsloo, Adriana Lima atau mungkin Miranda Kher yang kesemuanya adalah para angel kenamaan Victoria Secret. Kemudian setelah itu kami –aku dan Saejin- akan berakhir kelelahan diaras ranjang king size miliku. . Aku tahu tadi itu sedikit mesum. Tapi  hei, aku pria dewasa dan tidak ada yang salah dengan itu bukan. Lagi pula aku tidak membayangkan wanita lain. Yang kubayangkan adalah wanitaku.    

Berdiri tepat didepan pintu apartemenku, aku sedikit menetralkan degub jantungku. Oh Shit man! Tidakah sekarang aku lebih mirip remaja tolol yang baru merasakan apa yang dinamakan cinta.
Aku bisa saja memasukan sandi pengaman apartemenku lalu masuk kedalam.Tapi yang sekarang kulakukan hanyalah menekan bel kemudian menunggu Saejin membukakan pintu untuku. Sesederhana itu. Aku menyukai semua hal yang sederhana jika Saejin juga berada didalamnya.

“Hai.”

Aku menelan ludahku dengan susah payah saat mendapati wanitaku berdiri bekacak pinggang tepat dihadapanku dengan tampilan yang sedikit tidak biasa.

~°~

Hola guys gue balik lagi setelah gue mutusin buat hiatus.. Well, ada ga yg.kangen sama gue istri sah jamie dornan? Ok abaikan.

Ada yg bingung itu tadi apa? Yups udah pasti itu adalah ff. Yg nanya itu ff apa? Itu ff oneshoot. Pertama kalinya gue buat oneshoot yang panjang banget. Itu tadi cuma sebagian dari ff oneshoot gue. Ada yg penasaran? Well, gue bakalan ngelanjutin setelah gue liat respon kalian dulu. Kalau responnya bagus dengan senang hati bakal gue post. Kalau ngga, biarin aja tuh oneshoot jadi konsumsi pribadi. 

Bye.. Bye..
Bacanya sambil denger lagunya Maroon 5 yang judulnya SAD…

Iklan

111 thoughts on “Sad | Man Version

  1. Keren bgt chingu Sad Man version nya, akhirnya ktm lagi sama WP nya dan baca lg ff nya.. Kalau bs ada kelanjutannya chingu, Saejin seperti kebutuhan utama bagi Kyu oppa yg dulu nya badung banget, dia jd mengerti arti dan berharga nya cinta dari Saejin, smg mrk tdk pernah slg mengecewakan

  2. Eonnie lanjutin donk, aku penasarn dg apa yg menjadi kejutan saejin kpd kyuhyun, apakh nntiny dia berhianat mungkin? Woobin menarik jika saejin akhirny bermain api dg dia
    #keep writting 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s