Unconditional Love l Part 1

ch

Cast     : Cho Kyuhyun

             Han Saejin

 

Happy Reading!!!!!

Han Saejin berpikir bahwa ia tidak bisa terus seperti ini. Dua hari adalah waktu yang lebih dari sekedar cukup digunakannya untuk menangis. Menangisi karir  serta  nasib percintaannya bersama seorang  pria bermarga Lee. Lee Donghae lebih tepatnya.

Tanpa sebab yang jelas, Lee Donghae  memutuskannya.  Saejin tidak habis pikir. Dihari sebelumnya mereka tampak baik-baik saja seperti pasangan normal lainnya. Terakhir saejin mengingat mereka  sempat keluar untuk makan malam bersama. Semuanya masih begitu indah,  sampai dimana hari terkutuk itu tiba. Hari dimana seorang Lee Donghae memutus untuk mengakhiri hubungan asmaranya bersama Saejin.

Seperti pepatah yang mengatakan bahwa sudah jatuh tertimpah tangga, dihari yang sama  Saejin juga  di tendang dari perusahaan tempatnya bekerja, perusahaan yang berada dibawah pimpinan Lee Donghae yang nota bene adalah kekasihnya sendiri. Kecewa? Tentu saja! Bagaimana mungkin Donghae mencampuradukan masalah asmara keduanya dengan masalah pekerjaan.  Karir sebagai manager pemasaran yang berhasil Saejin bangun dengan susah payah dalam kurun waktu lima tahun ini berhasil dihancurkan hanya dalam waktu sehari. Sesuatu yang tidak sebanding sebenarnya.

Saejin terkesiap saat melihat pantulan wajahnya dicermin. Ini seperti bukan dirinya. Sama sekali bukan Han Saejin.  “Mengerikan,”gumamnya.  Sosok yang tak lain adalah Saejin sendiri itu, memang tampak sangat mengerikan. Lihat saja,  matanya sembab dan banyak lingkaran hitam dibawahnya.  Hidungnya juga  berubah  menjadi  merah, kontras dengan warna kulitnya yang seputih susu dan  diatas semua itu, lihatnya rambutnya. Rambut panjang coklat  yang biasa dibangga-banggakan-nya tampak begitu kusut dan tak beraturan.

***

SAEJIN

Ini sudah lewat 5 hari dari insiden menyakitkan yang tidak akan perna kulupakan dan aku berhasil bertahan setidaknya selama tiga hari belakangan ini. Dua hari sebelumnya yang kulakukan adalah mengunci diri dikamar dan menangis. Oh, aku seperti seorang drama queen saja.  Tapi setelah  aku melihat pantulan wajahku yang tampak begitu mengerikan dicermin tiga hari yang lalu, aku menyadari satu hal. Aku tidak bisa seperti ini,  tidak bisa hanya menangisi nasib buruk yang menimpahku.

“Han, apa kau sudah siap?”samar-samar indra pendengaranku menangkap suara yang sudah tidak asing lagi bagiku. Kutolehkan kepalaku dan mendapati  seorang wanita berambut pendek tengah bersandar pada kusen pintu kamarku . Lee Minji.

“Maafkan aku Minji-ya, sepertinya aku tidak bisa ikut.” Nada suaraku terdengar pelan. Raut wajahku kubuat sememelas  mungkin  agar meyakinkan  Minji bahwa aku benar-benar tidak bisa ikut dengannya.  Minji mengajaku untuk bersenang-senang dengan alibi menghiburku yang tengah patah hati. Klise sekali.  Akan kujelaskan bahwa bersenang-senang yang dimaksudkan Minji disini adalah pergi ke Club.

“Ayolah  Han.  Aku tahu kau butuh kesana. Disana kau bisa melampiaskan rasa frustrasi dan sakit hatimu selama lima hari terakhir ini.” Kedua alisku bertaut membentuk kerutan ditengah.  Kata-kata Minji ada benarnya. Aku butuh hiburan. Aku butuh  untuk melampiaskan rasa frustrasi dan sakit hatiku yang selama ini hanya tersalurkan dengan cara menangis seperti gadis tolol kebanyakan.

“Baiklah aku ikut. Kali ini Club mana yang akan kita sambangi?”

That’s my girl. Pilihan yang tepat untuk ikut Han. Kita akan menyambangi Detroit Club.  Club  kelas satu di Gangnam,” seru Minji dan sedetik kemudian aku mendapati  Minji berlari menyeberangi ruang kamarku dan mengurungku dalam pelukan singkatnya. Dia, Minji, tampak begitu senang karena berhasil membujuku untuk pergi ke Club bersamanya.

“Detroit Club?”

“Tentu saja,  Detroit Club. Club yang sering didatangi mantan kekasihmu itu.” Minji menyeringai kearahku . Oh,  aku bisa  mencium ada yang aneh disini. Aku  sangat yakin Minji merencanakan sesuatu.

“Kau merencanakan sesuatu?” Aku memiringkan kepalaku ke kanan dan menyipitkan mataku, memandangnya dengan tatapan penuh selidik.

“Oh, jangan menatapku dengan tatapan seperti itu Han. Kau benar, aku memang tengah  merencanakan sesuatu dan yang perlu kau lakukan hanyalah mengikuti skenarioku.”

***

Aku keluar dari kamar mandi setelah mengurung diriku sejam didalam sana, membasuh tubuhku serta mencuci rambut panjangku. Melepas handuk yang membungkus rambutku dan melemparnya ke tempat tidur, aku mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambut panjang coklatku.  Kulepas handuk  piyama yang sedari tadi membungkus tubuhku, lalu duduk dipinggir  ranjang dan mulai mengolesi  tangan, kaki dan setiap inci  tubuhku dengan lation favoritku.  Hal selanjutnya yang kulakukan adalah menarik laci nakas didekat tempat tidurku, mengambil secara asal  sepasang pakaian dalam  La Perla berwarna hitam dan mengenakannya. Hitam? Aku sedikit berjengit. Lambang kedukaan mungkin. Kedukaan atas insiden menyakitkan  yang menimpahku.

Aku berdiri didepan cermin, menatap bayanganku yang hanya mngenakan pakaian  dalam. Aku baru menyadari bahwa aku cukup seksi dan aku baru ingat sekarang bahwa  selama ini aku tidak perna benar-benar memperhatikan lekuk tubuhku.

Selanjutnya adalah bagian yang paling kusukai. Sedikit bergeser, aku tersenyum saat menatapi lemari besar berbahan dasar  kayu Mahoni  yang berdiri dengan kokoh tepat dihadapanku. Tanpa membuang banyak waktu, aku membuka  pintu lemari.  Aku tersenyum saat mendapati  puluhan koleksi gaunku  yang tergantung didalam sana. Malam ini aku akan membuat dia, Lee Donghae, menyesal karena telah melakukan kesalahan paling bodoh dalam hidupnya  yaitu dengan mencampakanku. Aku akan berdandan total dan sebelum itu, yang  harus kulakukan adalah  memilih gaun yang benar-benar cocok  untuk kukenakan . Jari telunjukku mengembara  disepanjang  deretan  puluhan gaun cantik  miliku, mengeliminasi sebanyak mungkin  dan memilih satu  yang terbaik.  Pada akhirnya  aku menjatuhkan pilihanku pada gaun  mini halter berwarna  hitam, senada dengan warna pakaian dalam La Perla yang telah lebih dahulu kukenakan.

Aku benar-benar tidak salah pilih.  Gaun ini begitu pas melakat ditubuhku dan dengan jelas menonjolkan lekuk-lekut tubuhku yang selama ini tidak perna  benar-benar aku  perhatiakan.  Kupasangkan  mini halter-ku ini dengan sebuah Louboutin seksi berwarna perak setinggi 9cm . Louboutin ini adalah pemberian  Minji  saat ulang tahunku yang ke-23 tahun lalu.

Aku  mulai membubuhkan zat-zat kimia diwajahku.  Untuk bagian mata,  pilihanku jatuh pada make-up bergaya  smokey eyes. Bukan tanpa alasan aku memilih gaya ini.  Make-up bergaya  smokey eyes  bisa mempertegas garis mata  yang pada intinya  nanti mampu  mempercantik mata dan memancarkan aura seksi.

Untuk rambut, aku tidak memilih untuk mengikat atau menyanggul rambutku dalam mode apa pun. Sebaliknya, aku membiarkan rambutku  tergerai dan  menggantung  di punggungku yang terbuka. Kembali memandangi pantulan diriku dicermin, aku kelihatan begitu sensasional, jika aku boleh memuji diriku sendiri. Lee Donghae,  kau lihat saja aksiku malam ini.

Membuka pintu kamar, Minji terkejut sekaligus terkekeh saat melihatku “Ya ampun Han, kau luar biasa seksi  dan cantik malam ini! Kau akan membuat para pria tolol disana bertekuk lutut dan juga Lee Donghae  tentunya.”  Aku ikut tertawa  bersama Minji. Minji juga tidak kalah seksi malam ini. Ia mengenakan Coktail dress seksi berwarna hijau toska “Begitu juga denganmu Minji-ya. Mari kita jalankan skenario yang telah kau buat,”ucapku seraya mengerling kearahnya.

Menggandeng tanganku, Minji  kemudian menuntunku keluar dari  apartemen kami yang terletak dilantai 23 lalu  memasuki lift dan meluncur ke loby Star City apartement.

***

Minji memacu Audi SUVnya dengan kecepatan 80 km/jam di jalanan kota Seoul menuju daerah Gangnam. Mengusir kebosanan,  aku memilih untuk menghidupkan siaran berita.

“Cho Kyuhyun, salah satu bujangan kaya sekaligus tampan yang paling diminati di Seoul dikabarkan memiliki masalah pada kehidupan seksualnya. Narasumber yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan  bahwa Cho Kyuhyun adalah seorang gay. Sejak  berita ini diturunkan, tidak ada konfirmasi sama sekali yang diberikan oleh pemilik Yongguk Enterprise itu___”

 

“Sampah!” Dengusku seraya  mematikan siaran  berita yang dibawakan oleh seorang pria gendut berstelan jas mahal.

“Cho Kyuhyun gay?  Sayang sekali. Pasti akan ada banyak wanita  yang patah hati setelah ini.”

“Mungkin,” jawabku asal.

“Ngomong-ngomong, Cho Kyuhyun itu sangat tampan.”

“Berhenti mengoceh tentang Cho Kyu__ , pria gay itu, atau siapa pun namanya, Minji-ya. Yang harus kau lakukan sekarang adalah mengemudikan SUV ini dengan aman . Aku tidak ingin mati sebelum bertemu dengan Lee Donghae,setidaknya sebelum aku  menyadarkannya bahwa ia telah melakukan kesalahan besar dengan mencampakanku atau pun menjadikannya miliku kembali.

***

 

23:45 KST Gangnam, Detroit Club

OK, ini rupanya tidaklah  seperti apa yang aku bayangkan.  Aku pikir semuanya akan berjalan dengan begitu mudah. Tapi lihatlah  apa yang terjadi disni. Aku begitu gugup. Kepercayaan diriku hilang entah kemana, bahkan sebelum aku melangkahkan kaki masuk kedalam club.

“Ayo kita masuk,” desak Minji. Beberapa menit yang lalu aku mengutarakan niatku pada minji untuk membatalkan rencana kami berdua tapi Minji menolaknya dengan mentah-mentah. Dia bilang aku sudah separuh jalan dan aku tidak bisa mundur lagi.  Minji  juga bilang, jika aku menyerah sekarang maka Lee Donghae akan menertawakanku.

“Ayolah han, kemana semangatmu yang berapi-api tadi?  Masuk dan bawa Lee Donghae kembali kepelukanmu!”

Hingar-bingar musik yang memekakan telinga terdengar saat aku dan Minji memasuki Club.

“Minji-ya, kau yakin dia disini?” Aku memilih untuk berteriak pada Minji karena aku yakin jika aku berbicara dengan suara yang normal Minji tidak akan mendengar suaraku. Oh ayolah, musiknya terlalu keras.

“Aku yakin dia ada disini Han,” teriak Minji.

***

Tidak memutuskan untuk langsung  ke lantai dansa, aku dan Minji memlih untuk duduk didekat bar, memesan dua gelas Margarita dengan kadar alkohol yang lumayan rendah. Aku menggerakan kepalaku ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan music yang berasal dari lantai dansa.  Didetik selanjutnya aku terkesiap saat tanpa sengaja pandangan mataku terkunci pada sosok pria kecintaanku yang telah berhasil  menghancurkan hatiku menjadi seperti kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Dia, Lee Donghae, berjarak tak jauh dariku dan berdiri membelakangiku.  Seperti biasa, ia begitu tampan. Sangat tampan. Sebagian dari diriku seakan  menjerit  memanggil namanya.  Disaat yang bersamaan, ingin  rasanya aku berlari kearahnya dan membungkus tubuhnya  dalam pelukanku. Tapi hatiku tiba-tiba membengkak karena kesedihan saat menyadari  kenyataan bahwa Donghae bukanlah  priaku lagi.

“Han, sekaranglah Saatnya. ”

“Bagaimana caranya?”

“Dekati pria mana saja  yang ada disini dan buat Lee Donghae Cemburu.”

Mengikuti saran Minji, aku berjalan ke lantai dansa. Tatapanku tak perna lepas dari Donghae. Sepertinya ia merasakan ada yang memperhatikanya, karena sedetik setelahnya ia menoleh kerahku. Pandangan mata kami bertemu. Aku melihat ia terkesiap saat melihatku. Mungkin ia terpesona pada penampilanku. Fakta baru ini membuatu bangga karena aku berhasil mempengaruhinya. Kembali mengendalikan permaianan yang sedang aku dan Minji mainkan, aku  mulai menari secara propokatif  dengan tiga pria yang entah sejak kapan mengelilingiku.

Jika aku berharap Lee Donghae akan cemburu, maka aku salah besar. Rencana Minji gagal total. Donghae tidak cemburu. Jauh dari kata cemburu, Donghae malah menatapku dengan tatapan rendah dan mencemooh, seakan-akan aku adalah wanita murahan.

Aku tertohok. Kecepercayaan diri yang kubangun berjam-jam  yang lalu hancur tak bersisa digantikan dengan rasa malu dan sakit hati. Aku merasa seperti ditelanjangi didepan umum. Perlahan tapi pasti, aku berjalan menjauhi lantai dansa.  Lee Donghae benar-benar tidak menginginkanku lagi dan sekali lagi aku kembali menangis seperti orang tolol.

***

Saejin memilih  vodka untuk menjadi pelampiasannya malam ini. Tidak tahu sudah berapa banyak vodka yang ia habiskan, pada intinya ia minum lebih banyak malam ini. Saejin mabuk. Ia mulai merancau tak jelas, bahkan berkali-kali ia menyebut nama Lee Donghae. Han Saejin terlihat begitu mengenaskan.

“Han, berhentilah minum. Kau sudah sangat mabuk.”

“Mabuk? Kau salah Minji-ya, aku tidak mabuk. Aku masih sadar.” Minji mulai putus asa. Ia menyesal mengajak Saejin ke club.Sebelumnya Minji mungkin berharap Semuanya akan baik-baik saja dan Lee Donghae mungkin akan kembali ke kepelukan teman seapartemenanya itu. Tapi lihatlah sekarang,  Saejin begitu menyedihkan, lebih menyedihkah dari pada saat Donghae mencampakannya.

“Minji-ya, aku ingin ke lantai dansa. Apa kau mau ikut?” Saejin bangkit dari duduknya. Tubuhnya sedikit oleng. Jika saja Minji tidak menahannya, mungkin saja  tubuh gadis muda itu sudah  terbaring  mengenaskan  di lantai.

“Tidak Han! Kau tidak boleh ke sana,”gertak Minji.

Sekuat apa pun mencoba, pada akhirnya Minji tidak bisa menahan Saejin. Dengan terhuyung-huyung, Saejin berjalan ke lantai dansan.  Dari kejauhan Minji menatapi Saejin dengan penuh kekhawatiran.  Pandangannya tak perna lepas barang sedetik pun dari Saejin. Minji memekik saat mendapati Saejin hampir saja terjatuh tapi kemudian ia bisa bernafas lega karena Saejin berhasil menemukan keseimbangannya kembali.

Kembali ke lantai dansa, Saejin menari dengan provokatif bersama seorang pria tampan. Saejin tidak menolak saat pria itu menarik pinggangnya untuk mendekat. Entalah, mungkin karena Saejin  sudah begitu mabuk.  Keduanya, Saejin dan Pria tampan  itu tampak begitu itim seperti pasangan kekasih. Melingkarkan lengannya dileher sang pria dengan posesif, Saejin kemudian membawa mulutnya ke mulut pria itu, menciumi sang pria dengan begitu rakus. Tidak tinggal diam, tangan keduanya pun  saling menggerayai tubuh satu sama lain.

Dari kejauhan Minji hanya berdiri terpaku seperti orang tolol menatapi keduanya. Raut wajahnya keliatan begitu terkejut. Jika kalian berfikir bahwa Mjnji terkejut karena ciuman panas yang dilakoni keduanya maka kalian salah besar. Lebih dari itu, Minji terkejut karena  pria yang tengah berciuman panas dengan sang sahabat adalah bujangan kaya sekaligus tampan yang  paling banyak diminati, CHO KYUHYUN.

#TBC

Gimana? Maaf pendek soalnya pengen liat respon readers dulu.   ff ini menandai come backnya aku, soalnya udah lama hiatus. Maaf banyak typo.

With Love,Miss GreyDornan

Iklan

264 thoughts on “Unconditional Love l Part 1

  1. Behhh itu pasti enak 🙂 dapet cium *desing* yg part 2 di protect yahh padahal pen baca. Kyuhyun pria tampan korea saya yakin tidak gay. :*

  2. What? Kyuhyun gay? Yg bener aja tuh berita asal. Gk tau apa klo kyuhyun hot banget.hahaha
    Tus gmana tuh lanjutanya. Seru tuh ntar pasti..
    Author minta pw yg part 2 dong.
    Bls line or fbku. Makasih.

  3. annyeong salam kenal …….

    Q kira donghae akan menyesal ternya gak
    trus giman saejin dan kyuhyun xixixi penasaran ama kelanjutannya

  4. Kyuhyun gk gay kan.? Itu britanya gk bner kan.? Ya ampun saejinnn cowok yang kamu cium itu cowok tertampan sekorea “cho kyuhyun” btw dnghae di sni knapa nyebelin bnget. Pnasaran sma part 2 nya tpi di pw.

  5. Annyeong kak saya readers baru , begitu lihat judul ff ini saya langsung tertarik dan langsung aja bacan, maaf ya kak sebelumnya ga minta izin baca malah bilang nya disinu

    Jdi cowo yg narik pinggangnya Saejin itu cho kyuhyun ,semoha aja berita gay kyu ga benar ya
    Atau jangan jangan donghae yg gay ? Next ditunggu ya 😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s